Selasa, 29 September 2015

Uniformity body weight sangat penting di ayam petelur



Bukti nyata kembali ditemukan bahwa uniformity body weight sangat penting di ayam petelur

Bukti nyata kembali ditemukan bahwa uniformity body weight sangat penting di ayam petelur *
Oleh : Sopyan Haris **
Estimasi baca 10 menit.
Saat kembali sedang melakukan kunjungan ke salah satu propinsi yang menyandang predikat salah satu sentra ayam petelur di Indonesia, saya kembali menemukan bukti nyata bahwa uniformity (keseragaman) berat badan sangat penting dalam ayam petelur.

Cerita berawal ketika seorang kawan mengajak saya berkunjung ke salah satu farm ayam petelur dengan populasi lebih dari 200 ribu ekor. Untuk kepentingan privacy saya tidak menyebutkan nama farm maupun lokasinya.


Dalam perjalanan menuju lokasi kami bersanda gurau bercerita untuk saling mengenal. Ternyata beliau – main person in the farm – adalah kawan satu almamater di Gadjah Mada Jogja. Beliau seorang Dokter Hewan yang kebetulan ketika KKN merupakan “konco plek” alias temen akrab salah seorang adik angkatan saya yang kebetulan masih family dari Bupati di salah satu Kabupaten di Jawa -kala itu-. So…komunikasi kami cair sambil bercerita tentang pergerakan 1998 yang kala itu berhasil meminta Presiden Soeharto lengser.
Saat diskusi dalam perjalanan, kami tidak membicarakan persoalan ayam melainkan bernostalgia tentang masa-masa perkuliahan dahulu.
Diskusi kami tentang ayam baru terjadi saat benar-benar kami berada di lokasi farm. Saya langsung dibawa ke salah satu flock dengan populasi 40 ribu ekor. Di kandang tersebut, beliau melontarkan kalimat “Iki pitiku gak iso puncak, tulung sampean delokno masalahe neng endhi”. Lalu beliau menambahkan “Lagi pisan iki aku nemokno masalah koyok ngene, on set lay sesuai target, tapi sampek umur 27 minggu iki posisi isih 80% HD cenderung stagnan”.
Saat itu jam menunjukkan pukul 13.30 waktu setempat, sambil diskusi sejarah pemeliharaan pullet, kami berjalan ke 2 unit kandang yang masing-masing berisi 7500an ayam, saya berjalan perlahan sambil mengamati secara visual kondisi ayam.
Tampilan wajahnya ayam, perubahan warna paruh, perubahan warna ear lobe, perubahan warna pada shank ayam serta penyebaran telur di tiap-tiap battery yang berisi ayam. Sekilas saya tidak melihat ada tanda-tanda mencolok yang dicurigai berkaitan dengan kondisi kesehatan ayam. Saat petugas kandang mengisi memberi pakan, terlihat juga ayam langsung reaktif untuk memakan pakan yang diberikan.
Saya ingat, main person in the farm tadi menyebut bahwa %HD bertahan di 80% cenderung stagnan sedangkan umur sudah mencapai 27minggu. Pikiran saya langsung terfokus untuk menghitung bahwa minimal ada 10% ayam dalam kelompok tersebut yang belum mampu bertelur, pikiran saya langsung tertuju pada saluran reproduksi ayam-nya dan berbagai pertanyaan berkaitan dengan history saat masa remaja alias masa ABG.
Saya meminta ijin untuk melakukan penyembelihan dan pembedahan pada ayam-ayam yang dicurigai belum bertelur. Saya menduga bahwa ayam-ayam yang minimal 10% tadi belum memiliki saluran reproduksi yang sempurna, sehingga ayam tersebut belum bertelur.
Pada deretan battery, saya mencoba memilih ayam yang saya duga belum bertelur dengan ciri :
1.
Wajahnya masih cantik, earlobe-nya masih memiliki pigmen kuning.
2.
Paruhnya belum mengalami bleaching (pemucatan)
3.
Jenggernya masih berwarna merah cerah namun masih pendek, serta shank-nya masih belum mengalami bleaching (pemucatan).
4.
Saat didekati, ia cenderung gelisah dan tidak mengambil posisi seperti siap dikawini.
Selanjutnya ayam yang dicurigai tersebut dikeluarkan dari battery dan dicek tulang pubisnya, dicek sisa bulu primer runcing-nya dan diukur panjang shanknya.
Saat proses pembedahan, saya meminta penjelasan sejarah sejak DOC hingga pullet dari kondisi trend konsumsi pakan, trend pencapaian berat badan dan trend uniformity (keseragaman). Dan saat pembedahan memang kami menjumpai bahwa ayam yang dibedah tersebut belum memiliki saluran reproduksi yang belum sempurna (foto ada di atas).
Kasus tidak bisa mencapai puncak produksi saya duga berawal dari kasus under body weight dan kasus un-uniform (tidak seragam). Tetapi ternyata “on set laying” terjadi tepat waktu sehingga dugaan pada berat badan saya anggap gugur, dan saya terfokus pada dugaan un-uniform.
Gayung bersambut, main person in the farm menceritakan segalanya sejak DOC hingga pullet atas variabel-variabel yang saya tanyakan tadi (konsumsi pakan, berat badan dan uniformity) dan beliau-pun cukup yakin bahwa masalah utama adalah uniformity flock tersebut kurang optimal.
Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu hal-hal apa yang menyebabkan uniformity berat badan itu kurang optimal ? Akhirnya pertanyaan itu terjawab sendiri oleh main person in the farm, pikiran beliau langsung tertuju pada konstruksi kandang, khususnya pada aspek lighting dan feeding equipment. Beliau menginstruksi kepada Head Flock dan team mekanik untuk menemukan penyebab masalah tersebut. Dan ternyata benar bahwa pada sebagian titik di kandang grower, aspek lighting dan feeding equipment memberi peran langsung terhadap kondisi berat badan dan uniformity yang kurang optimal.
Singkat cerita, memang permasalahan uniformity berat badan flock tersebut kurang optimal akibat lighting dan feeding equipment yang belum memberi kesempatan kepada ayam untuk tumbuh optimal. Perbaikan selanjutnya dilakukan dengan memperbaiki sistem lighting dan feeding pada periode selanjutnya. Sedangkan untuk kelompok yang belum puncak ini dapat ditunggu hingga umur 35 minggu, selanjutnya dievaluasi kembali status produksi di umur 35 minggu tersebut untuk selanjutnya dibuat keputusan.
Dari pengalaman lapangan tersebut dapat disimpulkan bahwa uniformity atau keseragaman berat badan memang memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai puncak produksi yang bagus. Memang tidak mudah untuk membuat ayam dalam flock 40ribu ekor memiliki berat badan yang uniform (seragam) tetapi dengan kembali pada manajemen pemeliharaan yang baik dan standar, maka harapan tersebut bukanlah omong kosong.
Kembali ditemukan bukti bahwa uniformity sangat penting dalam ayam petelur.
sumber :  http://unggasindonesia.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar