Selasa, 29 September 2015

Manajemen Ayam Layer (Ayam Petelor)


Supaya Produksi Telur Optimal
Sepertinya masih banyak pelaku industri peternakan ayam petelur (commercial farm) tidak mengetahui dengan pasti apakah produksi telur yang dihasilkan selama ini sudah optimal atau belum. Hal ini terjadi lantaran pada umumnya peternakan ayam petelur tidak dikelola dengan manajemen yang baik sehingga untuk memantau perkembangan produksi harian, mingguan bahkan dalam satu periode pun sulit.
Sesungguhnya gampang. Kuncinya adalah minimal harus ada recording harian dulu sehingga semuanya akan terpantau dengan pasti baik produksi (butir dan kilogram), jumlah pemberian pakan, kematian ayam (deplesi), berat telur dan lain-lain. Dan dari recording ini pula dapat diketahui apakah produksinya sudah optimal –mendekati sampai sesuai dengan standar- atau belum.
Secara sederhana, parameter yang dapat dipakai untuk mengukur ke-optimalan produksi adalah HD % produksi, jumlah telur kilogram yang selanjutnya berhubungan dengan berat telur (g/butir), liveability (daya hidup). Demikian pula untuk feed intake yang merupakan salah satu faktor penunjang supaya produksinya optimal.
Sesungguhnya hampir setiap breeding farm sudah memiliki standar produksi dari strain ayam yang dipasarkan. Misalnya Lohmann Brown menggariskan bahwa sampai umur 80 minggu setiap ekor ayam harus menghasilkan telur 337,5 butir dan 21,65 kg. Juga harus memiliki daya hidup 94-96 % sampai diafkir.
Melihat angka diatas tentunya bukan sesuatu yang mudah untuk dicapai. Uraian berikut ini diharapkan menjadi “tools” peternak sehingga produksi yang dihasilkan bisa optimal.
Masa Kritis Pertama.
Mengapa disebut masa kritis? Banyak literatur mengatakan bahwa umur 0-4 minggu merupakan “the major factor” dimana keberhasilan pencapaian berat badan pada umur ini sangat menentukan produksi telur nantinya baik dari HD% maupun berat telurnya.
Mengapa demikian, karena pada umur 0-6 minggu terjadi hiperplasia besar-besaran. Grafik pertambahan berat badan dibawah ini adalah bukti terjadinya hiperlasia tadi, dimana pertambahan berat badan meningkat drastis sampai umur 6 minggu kemudian berangsur-angsur turun.
Sumber : Layer Management Guide Lohmann Brown
Tampak dari grafik diatas bahwa mulai 0-6 minggu pertama terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sehingga kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Artinya, dengan cara apapun berat badan harus masuk standar paling lambat sampai umur 6 minggu. Disamping itu, perkembangan fisiologi (physiological development) ayam menunjukkan bahwa pada umur 6-8 minggu perkembangan skeletal sudah mencapai 85%. Teori ini pula yang mendasari bahwa “frame size” (baca : kerangka tubuh) akan terbentuk dengan baik jika berat badan ayam sampai umur 6 minggu telah masuk standar.
Sering dijumpai dilapangan bahwa peternak sangat sulit untuk mencapai berat badan diusia ini. Memang sebaiknya ada strategi khusus supaya berat badan masuk standar, misalnya dengan pemberian pakan sesering mungkin. Misalnya 2 jam sekali (8-10 kali dalam satu hari) terutama untuk umur 0-3 minggu.
Pemberian dengan cara ini ternyata juga mampu merangsang perkembangan tembolok sehingga harapan untuk pencapaian feed intake dan akhirnya untuk mencapai berat standar ini dapat terpenuhi. Dan harus ingat bahwa sangat mustahil berat badan dapat tercapai jika feed intake-nya tidak masuk standar pula. Jumlah feeder tray dan galon air minum juga menjadi faktor penting pencapaian feed intake. Ingat, dari waktu ke waktu standar jumlah feeder tray dan galon air minum semakin bertambah karena menyesuaikan dengan perkembangan genetis ayam.
Juga umumnya perhatian terhadap temperatur brooder sangat kurang, sehingga anak ayam pun merasa tidak nyaman.
Perhatian ini pun tidak ‘mentah-mentah’ menuruti standar temperatur yang sudah ada, tetapi juga tetap memperhatikan lokasi (ketinggian dari permukaan laut, suhu lingkungan, kelembaban) dimana kandang pullet berada. Jadi misalnya pemeliharaan pullet didaerah panas dibandingkan didaerah dingin memberikan konsekuensi pada jumlah dan lamanya pemanas dinyalakan berbeda-beda pula.
Ada salah satu teori lama mengatakan bahwa anak ayam sebaiknya diberikan makan setelah 3-5 jam setelah ditebar. Yang lebih baik ternyata semakin cepat ayam ditebar dan langsung diberikan makanan, maka pertumbuhan ayam akan lebih baik dan penyerapan kuning telur pun juga lebih cepat. Pakan starter yang berbentuk crumble ini ternyata mampu menjadi stimulator untuk memfungsikan segera organ-organ pencernakan. Salah satu contohnya adalah munculnya gerakan peristaltik usus yang kemudian segera menyerap kuning telur.
Demikian pula untuk kontrol berat badan. Sebaiknya berat badan ayam selalu dikontrol setiap minggunya sehingga dapat diketahui perkembangan ayam dari waktu ke waktu. Kontrol berat badan ini dapat dilakukan dengan penimbangan sampling minimal 10 % dari jumlah populasi yang ada dengan cara yang benar. Hasil penimbangan tersebut selalu dicatat dan berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan berkaitan dengan berat badan yang dicapai.
Pada umur 6 minggu grading total (penimbangan) harus dilakukan untuk memisahkan ayam-ayam yang masih berada dibawah standar. Ini mutlak. Karena ayam yang berada dibawah standar ini selanjutnya akan di perlakukan khusus untuk mengejar berat badannya misalnya dengan memperpanjang pakan pre-starternya.
Masa Grower Juga Penting
Dulu, banyak yang mengatakan bahwa apabila sampai umur 6 minggu berat badan ayam sudah masuk standar maka selanjutnya kita bisa ‘leha-leha’ dan produksinya pasti akan baik. Dari pengamatan yang penulis lakukan dilapangan ternyata berat badan yang sudah masuk standar pada saat pindah kandang batere pada umur 13 minggu (setelah itu biasanya peternak “lengah”) bukanlah jaminan produksinya akan baik.
Bahkan sebaliknya, walaupun berat badan ayam kurang dari standar pada saat naik kandang batere tetapi dengan perlakuan yang serius produksinya akan baik walaupun berat telur kurang bisa maksimal. Secara komulatif ini lebih menguntungkan.
Jadi kesimpulannya, mestinya starter baik grower pun juga baik. Ini baru jaminan. Apa bentuk keseriusan pada saat grower? Utamanya adalah pencapaian feed intake. Repotnya, banyak para operator kandang mengikuti kemauan ayam. Ini terbalik. Justru ayam yang harus mengikuti kemauan operator kandang. Artinya jika suatu hari pakan tidak habis maka hari berikutnya langsung saja mengurangi porsi pakannya tanpa mengevaluasi mengapa pakan tidak habis. Lebih parah lagi, setelah pakan dikurangi akhirnya ‘kebablasen’. Akhirnya kurang terus.
Memang banyak dijumpai kasus dilapangan, untuk meningkatkan feed intake terutama saat mulai bertelur susahnya bukan main. Untuk itulah ada masa kritis kedua yaitu mulai umur 16 sampai 24 minggu.
Pada masa kritis kedua ini dimulai dari umur 16 minggu, dimana ayam harus menghabiskan pakan minimal 80 gr/ekor/hari rata-rata dalam satu minggu. Dan selanjutnya setiap minggu rata-rata harus naik 5 gr/ekor/hari. Harapannya pada umur 24 minggu dimana disitu harus puncak produksi pakan sudah masuk 120 gr/ekor.
Apa yang terjadi jika kurang? Grafik produksi diatas sudah jelas menunjukkan bahwa pakan masuk 120 gr/ekor baru pada umur lebih dari 30 minggu. Disitu pula ayam akan puncak (90% HDP). Lebih parah lagi seandainya pakan tidak bisa masuk 120 gr/ekor, kalaupun ayam bisa puncak pasti tidak akan lama dan berat telur juga akan terganggu. Karena memang kebutuhan hidup ayam dan produksinya tidak tercukupi. Ini tentunya akan semakin menambah kerugian peternak bukan?
Banyak cara sudah diterapkan dilapangan untuk mengatasi kesulitan feed intake. Diantaranya adalah dengan ‘pengorehan’ sesering mungkin, atau dengan pembasahan pakan. Pembasahan ini kalaupun dilakukan sebaiknya tetap tanpa mengabaikan cuaca, serta jumlah air yang dipakai. Sebaiknya pembasahan atau penyemprotan pakan dengan air dilakukan pada siang hari, misalnya jam 11.00 dan jam 15.00. Kondisi yang panas ini memungkinkan pakan yang basah segera dimakan dan tidak tersisia terlalu lama yang dapat menimbulkan jamur.
Penyinaran
Masih banyak peternak yang tidak begitu peduli dengan penyinaran. Penyinaran yang baik artinya kebutuhan intensitas cahaya oleh ayam dapat terpenuhi dengan baik. Keterlambatan produksi pada usia layer juga bisa disebabkan oleh kurangnya intensitas cahaya yang diterima ayam.
Bagaimana mensiasatinya ? Sesungguhnya ayam memerlukan cahaya 40 lux. Penghitungannya mudah saja. Secara hitungan kasar kita bisa memakai 1 W per meter persegi dengan ketinggian lampu 1,5 meter dari ayam. Ini untuk lampu neon (fluorecent).
Lampu pada usia layer mulai dinyalakan sebagai stimulant hormon-hormon reporoduksi. Disamping itu dengan penambahan pencahayaan harapannya juga dapat meningkatkan feed intake yang kesulitan tadi.
Bagaimana dengan lampu bolam? Pilihan ini pun baik, karena lampu bolam/pijar ini memancarakan cahaya langsung dari filamen dan langsung dapat ditangkap oleh retina mata. Namun kelemahnnya kita membutuhkan jumlah lampu yang banyak, sehingga biaya listrik tentunya juga banyak. Karena dengan bolam kita membutuhkan 4-5 W per meter persegi. Jadi daya yang dibutuhkan juga 4 kali dibandingkan neon tadi.
Kesimpulan
Intinya, setiap step pemeliharaan adalah PENTING. Perhatian penuh harus selalu ada semenjak umur 1 hari sampai 24 minggu. Kedepan penulis akan sampaikan berbagai kasus produksi yang umumnya sering terjadi dilapangan dan bagaimana mengatasinya secara lebih rinci. Semoga membantu, dan selamat mencoba!
sumber http://esbefarm.blogspot.co.id/2013/06/manajemen-ayam-layer-ayam-petelor_11.html 

MENGETAHUI STANDAR PRODUKSI UNTUK EFISIENSI PETERNAKAN AYAM PETELUR/ LAYER


Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani (www.litbang.deptan.co.id). Hal itu berarti target konsumsi protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina.
Meningkatan konsumsi protein hewani akan berdampak positif pada peningkatan kualitas SDM sebuah bangsa. Pemenuhan gizi ini, khususnya protein hewani salah satunya dapat diperoleh dari telur. Berdasarkan data dari FAO (2010), jumlah konsumsi telur penduduk Indonesia 60 butir/orang/tahun. Konsumsi telur masyarakat Indonesia ini masih jauh di bawah konsumsi telur Malaysia dan Thailand yang rata-rata konsumsi telurnya masing-masing 305 dan 150 butir/orang/ tahun.
Namun jika kita telah terjun ke investasi peternakan layer, sudah seharusnya kita perlu mengevaluasi apakah usaha tersebut telah berhasil dan mampu memberikan keuntungan secara optimal.
Parameter Keberhasilan Layer
Bukan perkara yang mudah untuk mengetahui keberhasilan sebuah usaha layer. Sejumlah data dan perhitungan diperlukan untuk menentukan tingkat keberhasilan. Keberhasilan disini dibagi menjadi 2 aspek yaitu pencapaian produktivitas dan keuntungan finansial.
Pencapaian Produktivitas
Nilai standar produktivitas ayam telah ditentukan oleh perusahaan pembibit (breeder). Standar tersebut meliputi hen day, berat telur, lama produksi, konversi ransum, kekebalan dan daya hidup serta pertumbuhan. Pencapaian performan tersebut tergantung dari manajemen pemeliharaan yang diterapkan oleh masing-masing peternak.
›Hen Day (HD)
Hen day ialah persentase produksi telur yang dihasilkan oleh ayam produktif per hari. Rata-rata produksi (HD) layer selama hidupnya ialah 80% dengan HD mencapai puncak produksi pada angka 95% dan persistensi produksi (lama bertahan dipuncak HD>90%) selama 23-24 minggu (rata-rata strain ayam petelur).
›Feed Conversion Ratio (FCR)
Konversi ransum dalam farm layer merupakan jumlah ransum yang dikonsumsi ayam untuk menghasilkan sebutir telur. Ayam yang baik akan mengkonsumsi sejumlah ransum lebih sedikit dibandingkan telur yang dihasilkan. Idealnya satu kilogram ransum dapat menghasilkan satu kilogram telur atau lebih. Namun sampai saat ini, hal itu belum pernah ada. Nilai FCR untuklayer berkisar 2,1 – 2,3.
› Tingkat Kematian (mortalitas)
Mortalitas ditentukan oleh banyak faktor seperti kesalahan manajemen pemeliharaan dan infeksi bibit penyakit. Untuk mencegah tingginya angka mortalitas, maka jalan keluarnya ialah meminimalkan faktor penyebab mortalitas. Mortalitas akan mempengaruhi nilai penyusutan ayam. Standar mortalitas layer selama masa grower 2-3%, sedangkan pada masa produksi 4-7% (Lohman Management Guide, 2007)
Aspek Keuntungan Finansial
Untuk mengetahui keuntungan atau kerugian suatu usaha dari segi finansial, maka dilakukan analisis laporan keuangan untuk mengetahui Break Even Point (BEP).
BEP adalah titik impas antara jumlah biaya produksi (pengeluaran) dan tingkat harga pendapatan (pemasukan). Pada saat mencapai BEP, peternak hanya memperoleh keuntungan = 0. Untuk mendapatkan keuntungan maka harga jual telur harus di atas nilai titik impas tersebut. Rumus yang digunakan untuk menghitung BEP adalah :
Keterangan :
R = harga ransum/kg
FCR = feed conversion ratio
EM = Egg Mass (kg telur yang diproduksi selama 60 minggu)
HP = harga pullet atau biaya pemeliharaan dari DOC-pullet
HAF = harga ayam afkir
BOVK = biaya obat, vaksin dan kimia
BO = biaya operasional
Selama ini tidak jarang dijumpai peternak yang kurang tepat dalam menghitung keuntungan. Umumnya, mereka hanya menghitung keuntungan dari selisih penjualan telur dengan biaya umum yang telah dikeluarkan. Biaya umum tersebut hanya terdiri dari biaya ransum, tenaga kerja dan biaya obat serta vaksin. Sebagai contoh : Hasil penjualan telur : Rp 20.000.000; Biaya pengeluaran (ransum, tenaga kerja dan obat-obatan) : Rp 17.000.000. Maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 3.000.000.
Metode perhitungan seperti di atas masih kurang tepat karena sesungguhnya biaya yang dikeluarkan untuk produksi bukan hanya terdiri dari biaya ransum, tenaga kerja dan obat-obatan saja, tapi masih ditambah pula dengan biaya-biaya penyusutan dan biaya operasional lainnya.
Mencapai Efisiensi Investasi dan Keuntungan Finansial Melalui Komponen BEP
Kunci keberhasilan pemeliharaan layer terletak pada pencapaian produksi telur yang optimal dan efisiensi biaya. Efisiensi ini terkait dalam hal manajemen. Bukan hanya manajemen pemeliharaan ternak, tapi juga manajemen dalam melihat peluang pasar.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa analisis laporan keuangan yang menjadi patokan penentuan untung dan rugi adalah nilai BEP. Sesungguhnya BEP dipengaruhi pula oleh faktor-faktor biaya produksi yang terdiri dari biaya ransum, obat, vaksin dan kimia (OVK), penyusutan ayam, penyusutan kandang dan biaya operasional. Suatu farm akan dikatakan efisien jika memiliki nilai BEP seminimal mungkin. Berikut akan coba dijabarkan mengenai komponen BEP untuk mencapai konsep efisien.
Biaya penyusutan
Hal yang tidak kalah penting dalam usaha farm layer ialah perhitungan biaya penyusutan dalam biaya produksi. Kadangkala peternak lupa memasukkan biaya penyusutan ke dalam perhitungan sehingga hasil perhitungan dengan laba yang diperoleh tidak sesuai. Biaya penyusutan yang dimaksud meliputi penyusutan ayam, kandang dan peralatan kandang.
› Penyusutan ayam
Pada usaha farm layer, kita dapat memelihara ayam dari DOC sampai afkir atau memelihara dari pulletsampai afkir. Bila memelihara dari pullet sampai afkir, maka yang diperhitungkan adalah harga ayam ditambah biaya masa produksi. DOC atau ayam pullet ini disebut bibit.
Untuk menghitung biaya produksi yang dikeluarkan dari sektor bibit, tidak hanya jumlah seluruh modal untuk pembelian bibit, tetapi juga harus diperhitungkan dengan nilai yang hilang (penyusutan bibit/ ayam). Penyusutan ayam di sini bisa disebabkan oleh 2 hal yaitu peningkatan umur dan mortalitas.
» Peningkatan umur berpengaruh terhadap produksi
Ayam petelur mulai berproduksi umur 18 minggu. Produksi telur dimulai dengan produksi rendah kemudian meningkat dan puncaknya pada umur 24-26 minggu. Setelah mengalami puncak produksi, maka produksi akan turun perlahan-lahan. Ayam bisa berproduksi sampai tingkat menguntungkan sampai umur 20 bulan. Jadi mulai awal produksi pada umur 5 bulan dan berakhir pada umur 20 bulan berarti ayam hanya berproduksi efektif selama 15 bulan. Penyusutan harga ayam setiap bulan dihitung dengan rumus berikut :
Keterangan :
P2 : jumlah ayam pullet
HP : harga ayam pullet atau biaya pemeliharaan dari DOC-pullet
AA : jumlah ayam afkir
HAA : harga ayam afkir
» Mortalitas
Mortalitas sangat berpengaruh terhadap produksi telur (HD). Jika mortalitas tinggi maka jumlah ayam produktif menurun dan HD pun akan ikut menurun. Akibatnya pendapatan dari hasil penjualan telur juga menurun. Semakin tinggi mortalitas, nilai penyusutan ayam juga semakin tinggi. Lakukan manajemen kesehatan, pemeliharaan dan biosecurity yang ketat dan disiplin untuk meminimalkan mortalitas. Biaya penyusutan ayam akibat mortalitas :
› Penyusutan kandang
Beban biaya penyusutan kandang, tidak termasuk nilai lahan. Karena lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu. Kandang dapat dibuat di tanah milik pribadi atau menyewa. Kandang layerbisa terbuat dari bambu, kayu atau kawat. Kandang bambu atau kayu lebih cocok untuk usaha peternakan skala kecil, sementara kandang dari kawat lebih cocok untuk peternakan skala besar. Kandang bambu/kayu, biaya investasinya rendah namun penyusutannya lebih cepat. Sementara kandang kawat, investasinya tinggi namun penyusutannya juga lama. Sehingga sebenarnya kandang kawat jatuhnya lebih murah dibandingkan dengan kandang bambu. Lama ketahanan kandang selama 10 tahun. Penyusutan kandang dihitung dengan rumus berikut :
Keterangan :
BK/SK : Biaya investasi bangunan kandang / biaya sewa kandang
LKK/LSDK : Lama ketahanan atau lama sewa kandang
› Peralatan kandang
Peralatan kandang yang digunakan meliputi pemanas Indukan Gas Medion (IGM), tempat ransum dan tempat minum. Sama halnya dengan kandang, peralatan kandang juga mengalami penyusutan. Perawatan peralatan secara rutin dapat membantu menekan biaya penyusutan. Cara menghitung penyusutan peralatan kandang yaitu :
Keterangan :
Lama ketahanan peralatan kandang rata-rata adalah selama 4 tahun
Ransum
Ransum pada pemeliharaan layer dikelompokkan berdasarkan periode pemeliharaannya yaitu masa starter,grower dan layer (produksi). Ransum untuk layer dapat langsung menggunakan pakan buatan pabrik atau melakukan pencampuran sendiri.
Porsi terbesar komponen pembentuk harga pokok produksi telur adalah ransum yaitu kurang lebih 75%. Maka dari itu segala daya upaya harus diusahakan agar bisa menghasilkan penghematan pemakaian ransum tetapi tanpa mengorbankan sisi produktivitas. Dalam pembelian ransum, yang sering diperhitungkan oleh peternak adalah pertimbangan masalah harga ransum. Selisih sedikit saja, peternak bisa berganti merk. Penyebabnya adalah besarnya biaya yang tersedot pada penyediaan ransum tersebut. Padahal, mahalnya harga ransum bukanlah faktor terpenting. Yang terpenting adalah mutu ransum (feed quality). Akan menjadi lebih buruk lagi jika ransum yang harganya relatif murah tersebut ternyata banyak mengandung zat-zat racun makanan (feed toxin). Bahkan pemberian ransum dengan kualitas lebih rendah dari standar pada periode starter bisa mengakibatkan laju pertumbuhannya terhambat dan akan berujung pada pencapaian berat yang lebih rendah dari perkiraan.
Peternak yang sudah berpengalaman (memiliki dasar-dasar pengetahuan mengenai bahan pakan) sebaiknya dapat menyusun ransum sendiri. Tujuannya adalah agar biaya ransum dapat dihemat, sehingga keuntungan yang akan diperoleh juga meningkat. Selain itu, dengan menyusun ransum sendiri, peternak dapat menentukan bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan dalam penyusunan dan lebih efesien karena bahan-bahan pakan cukup tersedia di lingkungan farm. Cara perhitungan jumlah ransum yang dibutuhkan oleh ayam setiap bulannya yaitu :
Biaya kesehatan
Farm layer, memerlukan obat-obatan (antibiotik, vitamin, anti parasit dan anti cacing), vaksin (vaksin aktif dan vaksin inaktif) dan kimia (desinfektan dan insektisida) agar ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi, pemberian obat-obatan, vitamin, pemberantasan hama lalat dan kutu serta biosekuriti juga harus diberikan secara berkala. Semua biaya itu dimasukkan ke dalan biaya OVK (obat, vaksin dan kimia). Jika kejadian penyakit bisa dicegah, pengeluaran dari OVK juga bisa ditekan.
Biaya tenaga kerja
Biaya tenaga kerja meliputi gaji pokok dan bonus. Pemberian bonus diperlukan sebagai sebuahreward (balas jasa) atas kinerja yang optimal. Bila peternak menggunakan peralatan serba otomatis pada farmnya, maka tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit dan biaya ini pun bisa ditekan. Dalam usaha budidaya skala kecil, penyerapan tenaga kerja yang masih berasal dari sanak keluarga juga dapat menghemat tenaga buruh.
Biaya lain-lain
Biaya ini termasuk pengeluaran biaya rutin yang tidak bisa dimasukkan ke dalam pengeluaran yang telah disebutkan sebelumnya, seperti : listrik, pemanas, litter, ongkos transportasi, dll. Biaya tidak terduga seperti biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja juga masuk dalam biaya lain-lain.
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg tray, tali, label dan lain-lain), sehingga biaya ini pun masuk ke dalam biaya lain-lain.
BEP merupakan bentuk pengeluaran dalam usaha peternakan, sedangkan pemasukan terdiri dari :
Penjualan telur
Informasi pasar selayaknya selalu diketahui oleh peternak. Fluktuasi harga telur yang selalu terjadi membuat peternak harus selalu melakukan pemantauan pasar. Produksi telur dari bulan ke bulan tidak sama, karena itu untuk menghitung produksi telur (HD) setiap bulannya dilakukan dengan mengkalkulasikan data produksi harian. Disinilah pentingnya pencatatan ataurecording harian. Perlu juga kita memprediksikan pendapatan dari penjualan telur berdasarkan data produksi rata-rata bulanan dan harga rata-rata per bulan.
Keterangan :
RHD : Rata-rata Hen Day (%)
A : Jumlah ayam
T : jumlah 1 kg telur (16 butir)
Ayam afkir (sudah diperhitungkan dalam penyusutan bibit)
Kotoran ayam
Kotoran ayam umumnya sampai 30 karung per bulan per 1000 ekor dan biasanya dijual untuk dijadikan pupuk kandang. Penjualan kotoran kandang dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi peternak
Simulasi Analisis Perhitungan Investasi Layer
Perhitungan biaya pemeliharaan pullet yang dipelihara sendiri (16 minggu/ 4 bulan) tercantum pada tabel 1 dengan diketahui :
Harga DOC layer : Rp 4.000/ekor
Jumlah konsumsi layer fase starter selama 4 bulan : 5,48 kg/ekor
Biaya investasi kandang postal untuk pemeliharaan fase starter dengan kapasitas 1000 ekor : Rp 12.000.000
Biaya investasi peralatan kandang untuk kapasitas 1000 ekor : Rp 2.500.000
Biaya kesehatan DOC-pullet :
Rp 5.770,36/ekor
Biaya tenaga kerja : Rp 400.000/bulan
Biaya lain-lain : Rp 200.000/bulan
Mortalitas pemeliharaan dari DOC-pullet : 2%
Berdasarkan data pada tabel 1, jika mortalitas selama masa pemeliharaan starter sebesar 2%, maka harga pulletyang dipelihara sendiri adalah :
= Total biaya pemeliharaan DOC-pullet
Jumlah ayam
= Rp 35.246.693,33 = Rp 35.966,01
(1000-20)ekor
Ada selisih Rp 4.033,99 dari harga pullet jadi/pullet pabrikan (Rp. 40.000,00/ ekor).
Perlu diketahui bahwa pullet buatan sendiri lebih terjamin kualitasnya karena peternak bisa mengetahui sejarah pemeliharaannya. Namun memerlukan waktu cukup lama untuk pemeliharaannya.
Perhitungan biaya produksi (pengeluaran) pemeliharaan fase grower/pullet-afkir) tercantum pada tabel 2, dengan diketahui data pendukung :
Mortalitas ayam fase grower-afkir 4%
Lama pemeliharaan fase grower/pullet-afkir 15 bulan
Jumlah konsumsi layer selama fase grower/pullet-afkir : 0,115 kg/ekor/hari
Biaya kesehatan : Rp 1905/ekor
Rincian pendapatan/pemasukan dari hasil produksi layer dapat dilihat pada tabel 3, dengan data pendukung :
Rata-rata HD : 75%
Harga telur/kg : Rp 12.500/kg
Jumlah telur/kg : 16 butir
Harga kotoran : Rp 3.500/karung
Total kotoran : 30 karung
Dari data pada tabel 2 dan 3, diperoleh keuntungan :
Jika memelihara dari DOC-afkir sendiri = Rp 1.886.044,01
Jika memelihara dari pullet-afkir = Rp 1.669.946,67
Keuntungan (laba) yang diperoleh dari perhitungan masih termasuk laba kotor dan akan menghasilkan laba bersih setelah dikurangi pajak. Nilai laba bersih berguna untuk mendapatkan nilai profit margin, return of investment(ROI) dan return of equity (ROE), dimana nilai-nilai tersebut nantinya akan dibandingkan dengan nilai rata-rata farm layerdan nilai pada periode usaha tahun sebelumnya. Dari perbandingan itulah, bisa dilihat apakah usaha layeryang kita jalankan saat ini sudah efisien atau belum.
Dari hasil bahasan di atas dapat kita ketahui bahwa untuk menganalisis biaya dan hasil usaha farm layer tidak mudah. Peternak layer wajib punya catatan (recording) produksi bukan yang harian (Hen Day) saja, tetapi harus lengkap sampai recording per periode (Hen House). Hal yang juga tidak boleh dilupakan ialah bahwa manajemen pemeliharaan yang baik juga mempengaruhi keberhasilan usaha. Teruslah mengevalusi usaha peternakan yang Anda jalankan dan pasang strategi-strategi baru untuk pengembangan usaha tersebut. Salam sukses.
Sumber : Info Medion

Kebutuhan Enerji pada unggas


   Konsumsi enerji merupakan nutrisi penting yang membatasi penampilan unggas pada suhu tinggi. Kebutuhan enerji untuk pemeliharaan tubuh menurun sekitar 30 kcal/hari sejalan dengan peningkatan suhu di atas 21 oC. Meskipun kebutuhan enerji untuk pemeliharaan adalah lebih rendah pada suhu lebih tinggi, tetapi kebanyakan enerji terbuang sebagai panas tubuh sehingga kebutuhan enerji absolut tidak terpengaruh akibat stress panas.
Kandungan enerji pakan harus dimodifikasi yang memungkinkan pengurangan konsumsi selama suhu tinggi. Konsumsi pakan berubah 1,72 % pada setiap variasi 1 oC dari suhu ambang antara 18 oC sampai 32 oC. Penurunan menjadi lebih cepat (5 % untuk setiap 1 oC) apabila suhu meningkat ke 32 - 38 oC. Tindakan untuk meningkatkan konsumsi pakan antara lain dengan penggunaan lemak dalam pakan. Konsumsi meningkat di atas 17 % pada penambahan 5 % lemak pada unggas yang mengalami stress panas karena lemak memperbaiki palatabilitas. Di samping itu, lemak memberikan tambahan kalori akibat menurunnya laju pencernaan dan karenanya meningkatkan penggunaan nutrisi. Lemak atau minyak dengan lebih banyak asam lemak jenuh lebih disukai untuk iklim panas lembab. Konsentrasi enerji harus ditingkatkan10 % selama stress panas, sedangkan konsentrasi nutrisi lain juga ditingkatkan 25 %.

Tips dan Cara Bagaimana Menetaskan (Penetasan) Telur Bebek

Kutipan dari : bebeklampung.blogspot.com
Berikut cara dan tips bagaimana menetaskan telur itik atau bebek. Sebenarnya tata cara penetasan telur itik hampir sama dengan tata cara penetasan telur ayam. Perbedaan yang mencolok hanyalah  masalah waktu atau lama hari penetasan. Telur itik membutuhkan waktu sekitar 28 hari sedangkan telur ayam hanya butuh waktu sekitar 21 hari.Berikut akan kami sajikan pengetahuan kami perihal tata cara penetasan telur itik meskipun kami bukanlah yang terbaik dalam hal ini. Mudah-mudahan yang kami berikan ini membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.Persiapan telur.
Memilih atau menyeleksi telur tetas sesuai dengan kriteria telur tetas yang baik
Telur yang kulitnya terlalu kotor perlu dibersihkan, akan tetapi perlu ke hati-hatian dalam membersihkan kulit telur jangan sampai lapisan kulit ikut hilang
Pisahkan telur retak, kerabang tebal/tipis
Persiapan mesin tetas
Fumigasi mesin tetas telah dilakukan satu hari sebelum mesin dipakai meskipun mesin tersebut baru dibeli. caranya adalah dengan menggunakan KMNO4 dan formalin. Masukkan wadah pada mesin tetas. Tuang KMNO4 pada wadah setelah itu campur dengan formalin. Setelah itu tutup mesin tetas dan lubang ventilasi. Fumigasi berlangsung selama 30 menit atau 1 jam. Telur jangan dimasukkan dulu. Takaran untuk formalin 2 kali lipat dari KMNO4
Hubungkan mesin tetas dengan catu daya listrik dan tunggu sampai suhu mencapai kestabilan pada suhu 37-38°C. Pemanasan mesin tetas dilakukan minimal 3 jam sebelum telur dimasukkan ke dalam mesin tetas
Cek dengan seksama cara kerja thermostat, pitingan lampu dan yang lainnya
Sediakan cadangan bola lampu (dop) atau lampu templok (minyak tanah)
Setelah segala sesuatunya telah siap maka saatlah kita masuk ke tahap proses penetasan telur yang sebenarnya.  Adapun urutan kerja selama proses penetasan telur itik adalah sebagai berikut :
Hari ke-1
Masukkan telur ke dalam mesin tetas dengan posisi miring atau tegak (bagian tumpul di atas). Telur bisa langsung begitu saja dimasukkan ke dalam mesin atau melalui proses prewarming terlebih dahulu yaitu dibilas secra merata dengan air hangat.
Ventilasi ditutup rapat
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)
Hari ke-2
Ventilasi dibiarkan tertutup sampai hari ke-3
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)
Hari ke-3
Pembalikan telur harian bisa dimulai pada hari ini atau masuk hari hari ke-4. Disarankan pembalikan telur minimal 3x dalam sehari-semalam (jika memungkinkan dipakai rentang waktu setiap 8 jam. Misalkan pagi pukul 05.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 21.00.
Bersamaan dengan itu bisa dilakukan peneropongan telur kalau sudah memungkinkan karena ketelitian seseorang berbeda-beda. Telur yang berembrio ditandakan dengan bintik hitam seperti mata yang ikut bergoyang ketika telur digerakkan dan disekitarnya ada serabut-serabut kecil. Kalau telur tidak menandakan tersebut dikeluarkan saja dam masih layak untuk dikonsumsi. Peneropongan telur dilaukan ditempat yang gelap argar bayangan telur nampak lebih jelas.
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-4
Pembalikan telur harian sesuai jadwal hari ke-3
Lubang ventilasi mulai dibuka ¼ bagian
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C)
Hari ke-5
Pembalikan telur harian
Ventilasi dibuka ½ bagian
Kontrol suhu antara (37.8-38,8°C)
Hari ke-6
Pembalikan telur harian
Ventilasi dibuka ¾ bagian
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-7
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui perkembangan embrio (hidup atau mati). Embrio mati mati ditandakan dengan bercak darah atau lapisan darah pada salah satu sisi kerabang telur sedang embrio yang berkembang serabut yang menyerupai sarang laba-laba semakin jelas
Ventilasi dibuka seluruhnya
Hari ke-8 sampai ke-13
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-14
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup atau sudah mati. Telr fertile membentuk gambaran mulai gelap dengan rongga udara yang terlihat jelas
Hari ke 15 sampai ke-20
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan lakukan penambahan air pada bak jika jumlah air dalam bak tersebut berkurang.
Hari ke-21
Pembalikan telur harian
Lakukan peneropongan telur untuk mengetahui embrio yang tetap hidup dan mati. Embrio mati ditandakan dengan bocornya lapisan rongga udara sehingga telur terlihat hitam semua
Kontrol suhu antara (37,8-38,8°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-22 sampai ke-25
Pembalikan telur harian
Kontrol suhu antara  (37,8-38,8°C) dan tambahkan air ke dalam bak
Hari ke-26 sampai ke-27
Pembalikan telur dihentikan
Kontrol kelembaban, lakukan penyemprotan jika diperlukan (dengan semburan yang paling halus)
Biasanya ada telur yang sudah mulai menetas di malam hari
Hari ke-28
Telur-telur sudah banyak yang menetas
Keluarkan cangkang telur dari rak agar space atau ruangan lebih longgar
Keluarkan anak itik yang baru menetas setelah bulunya setengah kering atau kering seluruhnya
Proses menetas biasanya berlangsung hingga hari ke-29
Dan setelah semuanya selesai mesin tetas bisa dibersihkan dan difumigasi kembali untuk persiapan proses penetasan berikutnya.              
Catatan tambahan : hendaklah melakukan pendinginan telur minimal 2 kali sehari karena kalau melihat prilaku unggas yang mengerami telurnya maka dia akan meninggalkan telur untuk berenang beberapa saat kemudian masuk ke tempat pengeraman kembali dan begitu seterusnya dan kalau diperhatikan hal tersebut kadang dilakukan setiap hari.semoga bermanfaat.

KANDUNGAN GIZI ANEKA BAHAN PAKAN TERNAK UNGGAS



Bangsa unggas termasuk ayam tidak mungkin diberi satu bahan pakan saja. Sehingga memerlukan kombinasi beberapa bahan pakan sebagai bahan pakan penyusun ransum. Bahan-bahan penyusun ransum harus memenuhi kebutuhan ternak baik secara kualitas dan kuantitas. Kebutuhan akan gizi ransum tergantung dari jenis unggas, umur, pertumbuhan, tujuan produksi dan tingkat konsumsi dari ternak unggas.
Bahan pakan adalah bahan – bahan yang dapat digunakan untuk menyusun ransum ternak unggas yang siap diberikan kepada ternak unggas bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak.
Pakan merupakan bahan – bahan yang langsung dapat dikonsumsi oleh ternak unggas.
Ransum merupakan campuran beberapa bahan pakan yang telah memenuhi kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan oleh ternak yang siap diberikan dan habi dikonsumsi selama 24 jam.
Konsentrat adalah campuran bahan pakan yang merupakan produk pabrik pakan ternak yang mengandung protein lebih dari 34%.
· Identifikasi Bahan Pakan Ternak Unggas.
Penggolongan bahan pakan ternak unggas dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Berdasarkan Sumber / Asal:
Penggolongan bahan pakan ternak unggas berdasarkan sumber/asalnya dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Bahan pakan asal tumbuhan (nabati)
Bahan pakan nabati yang diberikan kepada ternak unggas terutama benyak yang berasal dari biji-bijian dan hasil olahannya yaitu 70% - 75%, 15% - 25% merupakan limbah industri makanan dan sisa hijauan ternak. Bahan pakan asal biji-bijian sebagian besar merupakan sumber energi yang baik karena berasal dari tumbuh-tumbuhan, maka kandungan serat kasarnya tinggi. Contoh:
v Jagung
Merupakan sumber energi yang baik karena serat kasarnya rendah. Sumber xanthophyl dan asam lemak. Asam lemak jagung sebesar 1,60% sebagai sumber protein atau asam amino juga kurang baik karena hanya mengandung 9 – 10% protein kasar.
v Dedak halus
Bahan pakan unggas asal nabati yang paling banyak digunakan adalah dedak halus. Kandungan nutrisi dedak halus adalah sebagai berikut: protein kasar 1890 Kkal/kg dan lemak kasar sebesar 8,3%. Dedak mempunyai kandungan serat kasar 13%. Bangsa unggas tidak mampu mencerna serat kasar lebih dari 4% karena serat kasar inilah yang menjadi faktor pembatas sehingga dedak halus tidak dapat digunakan secara berlebihan.
v Bekatul
Mempunyai kandungan nutrisi yang sedikit berbeda dengan dedak kasar. Kandungan nutrisi dari bekatul adalah energi metabolisme sebesar 1.630 Kkl/kg. protein kasar 10,8%, lemak kasar 2,9% dan serat kasar 4,9%.
v Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa merupakan bahan pakan hasil samping pengolahan kelapa, baik itu minyak kelapa atau yang lain. Merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati, mengandung protein kasar 20 – 26%. Digunakan sebagai bahan pendamping tepung ikan dan jagung kning. Kelemahannya : karena kandungan minyak tinggi sehingga mudah tengik menyebabkan mengganggu selera makan.
v Ubi Kayu dan Hasil Olahannya
Ubi kayu mempunya kandungan energi 2970 k.kal/kg. Penggunaan ubi kayu memerlukan proses lebih lanjut dengan cara dkeringkan terlebih dahulu. Kelemahan ubi kayu mengandung racun Hidrocyanik (HCN), pemanasan dengan matahari, direbus atau dipanaskan dengan suhu 70 – 800C dapat mengurangi pengaruh HCN.
v Hijauan
Hijauan dapat digunakan dalam formulasi ransom ternak unggas maksimum 4% dari total ransom. Kandungan serat kasar yang tinggi menyebabkan hijauan terbatas penggunaannya.
b. Bahan pakan asal hewan (hewani)
Bahan pakan hewani sudah menjadi campuran ransum ternak unggas sejak ayam ras pertama kali diperkenalkan. Contoh : tepung ikan, tepung tulang, tepung kerang, lemak atau minyak hewan.
v Tepung ikan
Tepung ikan pada umumnya terdapat dalam formula ransum ungas komersial (mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk diperjualbelikan). Umumnya tepung ikan terdapat dalam ransum unggas yang dapat menghasilkan produksi tinggi. Secara umum tepung ikan berkualitas baik mengandung protein kasar 60% - 70%.
v Tepung tulang
Tepung tulang digunakan sebagai sumber kalsium, terutama untuk unggas yang sedang/dalam masa pertumbuhan. Sebagai sumber kalsium dan fosfat, tepung tulang mengandung posfor 12% - 15% dan kalsium 24% - 30%.
v Tepung kerang
Tepung kerang digunakan sebagai sumber kalsium, kadar Ca, tepung kerang cukup besar yaitu 38%.
v Limbah Industri Udang
Pengeringan dengan uap panas atau matahari dari bagian tubuh yang menjadi limbah akan menentukan kualitas bahan pakan ini. Mengandung protein kasar 35 – 45% dan berkualitas baik disamping juga mengandung mineral yang tinggi.

2. Berdasarkan Kandungan Nutrisi:
a. Bahan pakan sumber protein
Bahan pakan ternak unggas yang merupakan sumber protein, umumnya berasal dari bahan pakan asal hewan. Bahan pakan yang termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak unggas yang mempunyai kandungan protein kasar lebih dari 20%. Antara lain: Tepung ikan, Tepung darah, Tepung limbah udang, Tepung bulu terolah, Bungkil Kelapa, Bungkil Kedelai, dll
b. Bahan pakan sumber energi
Bahan pakan ternak unggas sumber energi umumnya berasal dari bahan pakan nabati. Bahan pakan ini mengandung protein kurang dari 20% dan serat kasar kurang dari 18%. Bahan pakan ini contohnya antara lain : Jagung, Dedak halus atau bekatul, Minyak nabati dan minyak ikan, Ubi kayu/singkong dll.
c. Bahan pakan sumber vitamin
Vitamin merupakan komponen organik yang mempunyai peranan penting di dalam metabolisme tubuh ternak unggas. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah sedikit tetapi sangat dibutuhkan oleh unggas. Kekurangan vitamin akan segera terlihat yaitu pada tahan pupuk unggas terhadap penyakit. Bahan pakan yang merupakan sumber vitamin antara lain: Hijauan segar, Tepung hijauan, Feed supplement.
d. Feed suplement (feed additive)
Feed suplement merupakan bahan pakan yang terdiri dari campuran vitamin, mineral, asam amino, serta jenis-jenis obat tertentu, seperti Antibiotik, Arsenal Mineral Nitrafuran dan Coccidiostat. Jenis Feed Suplement Antibiotik Perkalin Teracmycin serta Oureomycin yang banyak diperdagangkan. Feed Suplement Coccidiostat yang berupa Chlortetra Cycline Fira Solidone dan Exytetracycline dapat digunakan untuk mencegah penyakit seperti penyakit berak darah.
3. Berdasarkan Bentuk Fisik:
Bahan-bahan pakan unggas yang berupa hasil pertanian baik dari bahan nabati maupun dari bahan hewani. Berdasarkan bentuk fisiknya bahan pakan ternak unggas ada 3 macam yaitu:
a. Bahan pakan bentuk butiran
Bahan pakan ini perlu digiling terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan pakan ransum. Contoh: jagung, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah, dll.
b. Bahan pakan bentuk tepung
Bahan pakan ini berasal dari bahan pakan hewani dan nabati. Biasanya pengusaha (poutry shop) lebih cenderung menjual ransum yang sudah jadi, seperti konsentrat, feed suplement, antibiotik serta jenis obat-obatan lainnya. Contoh: tepung ikan, tepung daging, tepung tulang dan tepung hijauan ternak.
c. Bahan pakan bentuk cair
Bahan pakan berbentuk cair terutama minyak nabati maupun minyak hewani sering digunakan pada unggas pedaging yang membutuhkan energi tinggi. Penggunaan bahan pakan berbentuk cair (minyak) di dalam ransum unggas. Selain membantu memenuhi kebutuhan energi juga menambah selera nafsu makan ternak unggas. Selain itu juga dapat mengurangi sifat berdebu pada ransum yang berbentuk tepung lengkap (All Mash). Contoh : minyak nabati, mollases, minyak ikan dan lainnya.
  • Penentuan Bahan Pakan Ternak Unggas
Kriteria yang digunakan dalam memilih dan menentukan bahan pakan ternak unggas ada 4 (empat) kriteria yang harus dipenuhi sehingga bahan pakan tersebut dapat digunakan dan layak sebagai bahan pakan ternak unggas. Keempat kriteia tersebut adalah :
a. Harga bahan pakan
Harga bahan pakan sangat menentukan dalam pemilihan bahan pakan ternak unggas. Murah mahalnya bahan pakan itu harus dinilai dari manfaat bahan yang merupakan cermin kualitas dari hasil yang diperoleh. Contohnya tepung ikan: harga absolutnya relatif mahal, tetapi dilihat dari segi kandungan proteinnya yang tinggi dan kelengkapan asam aminonya yang terkandung kemudian dilihat dari segi manfaatnya yang diperoleh maka tepung ikan menjadi murah.
Contoh :
Tepung ikan tuna
H. absolut : Rp.5.000/kg
Protein kasar : 63%
Harga relative : 5.000/63 = 83,3/% protei kasar
Tepung ikan putih:
H. absolut : Rp.5.200/kg
Protein kasar : 69%
Harga relatif : 5.200/69 = 82,5/% protein kasar
Kriteria pemilihan bahan pakan yang memiliki harga relatif terendah yaitu “tepung ikan putih” karena harga setiap % protein lebih murah dibanding “tepung ikan tuna”. Dalam penyusunan ransum ternak unggas, protein merupakan kandungan nutrisi bahan pakan yang dibutuhkan.
b. Daya saing bahan pakan hewan terhadap makanan manusia
Bahan pakan ternak khususnya ternak unggas tidak boleh bersaing dengan bahan makanan manusia. Bila manusia banyak membutuhkannya, bahan pakan itu jangan diberikan kepada unggas/ayam. Contohnya: pada prinsipnya beras tidak digunakan sebagai bahan pakan ternak unggas.
c. Ketersediaan bahan pakan
Bahan pakan yang digunakan harus tersedia dalam waktu lama dan jumlah yang banyak. Bahan pakan yang ada pada suatu saat saja kemudian lenyap, harus dihindari. Contohnya: padi yang diproduksi secara massal akan menyebabkan persediaan dedak dan bekatul untuk bahan pakan ternak akan melimpah.
d. Kandungan gizi bahan pakan
Suatu bahan dengan harga absolutnya murah, ketersediaannya kontinue, tetapi bila kandungan gizinya buruk bahan itu tidak digunakan. Kandungan serat kasar bahan pakan semakin tinggi kandungan serat kasarnya akan semakin kurang berteran bahan pakan itu terhadap bahan pakan unggas.
  • Kualitas Bahan Pakan Ternak Unggas
Kualitas bahan ternak unggas sangat menentukan produktifitas ternak yang diusahakan. Bahkan kualitas yang sangat buruk dapat mengancam kehidupan ternak yang mengkonsumsinya. Kualitas bahan pakan ternak dapat diketahui secara inderawi (organoleptis) dengan mengamati bentuk dan ukuran, bau, warna dan kemurnian bahan.
a. Bentuk dan Ukuran
Bahan pakan dari nabati dan hewani dalam berbagai bentuk, ukuran dan kondisi fisik yang berbeda-beda. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh cara pemanenan, jenis, tujuan penggunaan dan proses pengolahan terhadap bahan tersebut.
  1. Bau
Bau merupakan salah satu factor yang sangat mempengaruhi selera makan ternak sehingga berpengaruh pada produksi itu sendiri. Bau disebabkan oleh adanya reaksi zat kimia yang ada dalam bahan pakan, aktivitas mikroorganisma dan binatang parasit serta pengaruh temperature lingkungan penyimpanan.
  1. Warna
Enzim yang terdapat dalam bahan pakan berasal dari mikroorganisme yang mencemari bahan pakan tersebut. Enzim ini akan mempercepat reaksi – reaksi kimia dan mengakibatkan perubahan-perubahan pada komposisi bahan pakan termasuk warna.
  1. Kemurnian Bahan
Kemurnian bahan diartikan sebagai tidak tercampurnya bahan pakan dengan bahan lain. Ada beberapa kontaminan yang mempengaruhi kemurnian bahan pakan, yaitu :
v Kontaminasi dengan bahan tidak sejenis.
v Kontaminasi dengan benda asing.
v Kontaminasi dengan makhluk hidup.
· Faktor Pembatas Bahan Pakan
Bahan pakan ternak unggas dalam pemberian dan pemakaiannya sebagai bahan penyusun ransum juga dibatasi dengan faktor – faktor tertentu. Faktor – faktor tersebut adalah
  1. Toksin/Racun;
Pemakaian tepung ubi kayu atau ketela pohon harus dibatasi sekitar 5% dari berat total ransum karena mengandung asam cianik (HCN) yang dapat menyebabkan penyakit gangguan pencernaan.
b. Serat Kasar
Pemakaian hijaun dalam ransum juga dibatasi sekitar 4% karena hijauan banyak mengandung serat kasar dan serat kasar ini tidak dapat/sulit dicerna oleh tubuh ternak unggas.
c. Asam Lemak Jenuh
Pemakaian bungkil kelapa harus dibatasi sekitar 20% karena bahan ini banyak mengandung asam lemak jenuh sehingga sering menimbulkan bau tengik pada ransum ternak unggas.
Catatan
Zat gizi pakan dalam bentuk kasar, misal : protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan lainnya karena zat gizi bahan pakan tidak semua dapat dicerna dan diserap oleh tubuh melainkan ada sebagain zat gizi tersebut yang keluar sebagai urin, keringat dan feces.

sumber http://esbefarm.blogspot.co.id/2013/06/kandungan-gizi-aneka-bahan-pakan-ternak.html